
*Author POV*
Jera membuka sebuah kotak dibangku taman, ia mengeluarkan sebuah surat dan membacanya. Terlihat air mata mengalir dipipinya saat ia membaca surat itu. Entah berapa kali ia membaca surat itu sampai saat ini. Lalu dimasukkannya surat itu kedalam kotak dan ia mengeluarkan sebuah kalung berbentuk bintang. Digenggamnya kalung itu erat-erat sambil menatap langit dengan tatapan hampa.Jera berharap ia bisa melihat bintangnya. Bintang yang daridulu bersamanya. Dan sekarang bintang itu ada digenggamanya. ia sudah mempunyai kalung itu lebih dari 2 tahun tapi sampai saat ini ia tak berani memakainya. Ia terlalu takut mengingat kenangan manis yang sekarang terasa pahit. Sebuah bintang yang dulu tampak nyata dihadapannya. Seorang yang terus ia kenang sebagai bintangnya. Ia tersenyum sambil menatap langit dan menggenggam tangannya. Walaupun matanya bengkak karena tangisan namun bibirnya tersenyum manis “Aku akan selalu mendukungmu…wahai bintangku” kata Jera. Ia lalu mengingat kejadian 2 tahun lalu. Kenangan manis yang telah menjadi pahit dihidupnya…
*Lee Jera POV*
“Zhoumi….yang bener dong main basketnya…” kataku menantang Zhoumi, sahabatku “enak saja kau ngomong!!! Memangnya main basket itu gampang apa?” katanya “YAK! Kau kalau mau jadi pemain inti harus serius makanya, ayo cepat masa kau kalah sama Donghae” kataku pada Zhoumi. Ia pun mengambil bola yang baru saja ia lemparkan ke ring dan memainkannya lagi. Sebenarnya aku tak tega melihat Zhoumi main basket terlalu berlebihan, apalagi ia sering mimisan setelah bermain basket. Namun aku sudah berjanji padanya supaya aku terus mengingatkannya berlatih serius karena tergetnya adalah masuk ke dalam pemain inti “HAH… sudah yaaa untuk hari ini, kau terlihat sangat capek sekali” kataku yang tak tega melihat zhoumi yang makin lama makin kewalahan “sudah? Yaaah padahal pengen terus latihan, yasudah deh minggu depan lagi aja” katanya. ia pun bergegas keruang ganti dan aku menunggunya digerbang sekolah, kami memang tetangga, jadi biasa pulang bareng jika selesei pelatihan basket “ayo pulang…” katanya seraya menghampiriku. Kulihat ia menyumpal hidungnya dengan tissue “kau taka pa? mimisan lagi?” kataku padanya “iya, aku tak apa kok, hanya mimisan kecil” katanya “kau tak punya penyakit atau semacamnya kan?” tanyaku cemas padanya “hey…tenang saja. Aku sudah terbiasa mimisan seperti ini, Jera-ah” katanya. walaupun masih cemas namun aku mengangguk saja. Ia terlalu memaksakan diri…tapi sebagai sahabatnya aku juga harus mendukungnya supaya ia bisa menjadi pemain inti.
**
Keesokan harinya…
“Hyemi…sudah piket belum?” kataku pada temanku, Hyemi “ehmm….belum eheee” katanya sambil nyengir “cepat piket sana!!! Udah tau kelas kotornya kaya gini” kataku “lah kemarin kan yang nyampah kamu, kenapa aku yang disuruh piket?” katanya “3 alasan, karena aku ketua kelas dan kau hari ini ada jadwal piket dan juga…..kau sesie kebersihan!!!hahaha makanya jika ingin menjadi sesie kebersihan mikir dulu” kataku sambil terkekeh “aturan kan ketua kelas yang bertanggung jawab jika sesie nya ga mau piket. Jadi kamu dong yang piket” kata Hyemi. Kulihat Donghae (cowonya Hyemi) masuk keruang kelas tanpa sepengetahuan Hyemi, aku tau Donghae sangat cinta pada kebersihan “SEPERTINYA ADA YANG TIDAK MAU PIKET INI…” kataku, sengaja nada bicaraku kutinggikan supaya Donghae bisa mendengarku. Ia pun langsung menghampiri Hyemi “aaah jagiya…kau piket sana. Aku risih lihat kelasmu” kata Donghae pada Hyemi “aaaaah, baiklah. Awas kau nanti Jera!!” kata Hyemi langsung menuruti perkataan Donghae.
Sepulang sekolah aku langsung ke ruang olahraga, kulihat Zhoumi sudah berlatih sendirian, yah, kuakui anak itu benar-benar memiliki semangat yang luar biasa. Ia ingin mengalahkan Siwon sunbae, bintang basket disekolahku. Aku melihatnya latihan tanpa ia sadari. Gerakan nya makin lincah, ia makin pintar menguasai teknik basket. Kulihat ia terus melemparkan bola kekeranjang. Sesekali ia jongkok karena kelelahan “istirahatlah dulu…jangan memaksakan diri” kataku. zhoumi langsung melihatku kaget “sejak kapan kau disana?” ucapnya “daritadi…makanya kau jangan terlalu serius dong” kataku “ah kau ini kaya gatau aku saja” katanya. tak lama kemudian anak-anak kelas 2 datang keruang olahraga. Memang hari ini jadwal anak kelas 2 berlatih basket. Kalau kelas 1 hanya sekali dalam seminggu itupun hari senin. Kulihat Siwon dan Hangeng mengambil bola dan memainkannya 1 lawan 1. Siwon sunbae dengan lihai melewati garis pertahanan Hangeng sunbae dan ia pun mengshoot bolanya. Masuk. Aku ternganga melihat permainannya. Sangat luar biasa. “kira-kira aku bisa tidak ya seperti siwon hyung?” kata Zhoumi. Aku kaget karena tiba-tiba Zhoumi sudah berada disampingku melihat permainan Siwon sunbae “ya bisa saja sih. Kalau latihan lagipula kau hanya bermodal latihan saja, kalau siwon sunbae kan sudah punya bakat ditambah dengan latihan. Wajar saja kalau dia jago seperti itu” kataku “terus bakatku apa dong?” kata Zhoumi “yaaa mana ku tau. Tanya saja pada dirimu” kataku sok cuek “ah kau ini. Ayo pulang. Tidak enak ah berada diantara kakak kelas begini” katanya. akupun pulang bersama Zhoumi menggunakan bus.
**
“aku berhasillll” kata Zhoumi “mwo? Kau berhasil apa?” kataku sok gatau “ah kau ini…aku jadi pemain inti” kata Zhoumi. Ya, setahun telah berlalu. Sekarang kami sudah kelas 2. Dan zhoumi pun menjadi tim inti basket “latihanmu selama ini tak sia-sia Zhoumi” kataku “semuanya berkat kau juga, Jera-ah” katanya “aku kan sudah berjanji, aku hanya menepati janjiku saja” kataku. ia pun tersenyum terhadapku. DEG! Kenapa jantungku berdetak 2 kali lebih cepat saat melihat senyumnya kali ini? Ah sadar Jera…kau tak boleh berpikiran terlalu jauh. “kau akan menonton pertandingan perdana ku kan?” katanya “tentu saja, kapan pertandingannya?” kataku “emmm sabtu besok, sekarang hari apasih?” tanyanya. Aduh anak ini masa lupa sih kalau ini hari senin? “senin, hey kau bodoh sekali masa hari saja lupa” kataku “oh iyaiya…hahaha yasudah. Tunggulah pertandingan perdana ku ya Jera…pastikan kalau kau menontonnya kalau tidak…kau tidak akan selamat” katanya mendramatis “apasih kau? Memangnya kau mau membunuhku?” balasku. Ketika aku melihat wajahnya, sesuatu berwarna merah mengalir dari hidungnya “ZHOOUMI!!! HIDUNGMU!!!” teriakku panic. Zhoumi langsung mengeluarkan sapu tangannya dan langsung menyumpal hidungnya “taka pa kok. Hanya mimisan biasa” katanya “kau ini tak apa tak apa….kalau terjadi apa apa bagaimana?!?!” tanyaku panik. Ia hanya tersenyum “aku sudah biasa” katanya. “kau yakin kau tak punya penyakit?” kataku “yakin sekali” katanya. tetapi saat ia mengatakannya ia tak menatapku. Sulit bagiku untuk mengetahui ia berkata jujur atau tidak tanpa melihat matanya “kau tak berbohong kan?” kataku “tidak. Aku sudah jujur padamu” katanya masih tak memandangku. “aku ketoilet dulu, mau membersihkan hidungku” katanya seraya meninggalkanku
**
“I…can’t….live….wi…thout…. you…
My all is in you “
Kuangkat ponselku yang berdering “yoboseyo” kataku “yoboseyo…Jera-ah?” kata suara Zhoumi yang cukup familiar ditelingaku “ne, ada apa?” kataku “em…sepertinya besok sabtu aku tak ikut pertandingan” katanya “kenapa? Ayolah kau sepanjang sekolah tadi memaksaku melihatmu saat pertandingan debutmu, dan sekarang kau yang tak ikut” kataku. ya, sejak hari senin sampai sekarang, hari jumat ia terus menerus memaksaku menonton pertandingan debutnya. Padahal aku sudah mengatakan iya tapi ia terus bertanya untuk memastikan “aku tak akan datang” katanya “kenapa?” tanyaku “aku keluar dari basket. Aku muak dengan semuanya” katanya “mwo? Kau serius?!” kataku “ne” katanya singkat. Oke sekarang aku mulai emosi karena latihannya selama setahun belakangan sia-sia saja “Zhoumi!!!! Buat apa latihanmu selama ini? Kau ingin jadi pemain inti? Kau sudah mendapatkannya tapi kau malah dengan mudah melepaskannya” kataku “mianhaeyo telah merepotkanmu selama ini. Aku memang serius latihan untuk pemain inti namun aku tak bisa menerima nya” katanya “Zhoumi….ka..” kata-kataku terputus karena ia telah memutuskan teleponnya. Oke, ini benar-benar tak masuk akal. Kenapa ia menjadi seperti ini? Kenapa dia? Ada yang aneh dengannya. Aku akan bicara dengannya. Aku akan menanyakan ada apa dengan dirinya. Aku keluar dari kamarku “umma, aku mau keluar sebentar” kataku meminta ijin “yasudah sana…jangan pulang terlau larut” kata umma “ne” kataku singkat lalu aku menaiki mobilku menuju kerumahnya
**
Aku mengetuk pintu rumahnya. Sepi….seperti tak ada orang dirumah. Aku terus mngetuk sambil memanggil-manggil namanya. Namun tak ada jawaban dari dalam rumah. Aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku jaketku dan menelponnya “yoboseyo” kataku ketika telponku diangkat “yoboseyo. Jera-ah?” kata umma-nya Zhoumi “ne, tante…Zhoumi mana?” kataku mencari zhoumi “kau ingin bicara dengannya? Ia sedang beristirahat” katanya “tapi dirumah sepi” kataku “oh kami sedang tidak berada dirumah” kata umma-nya Zhoumi “mwo?jadi dimana?” kataku. “siapa yang menelpon umma?” Tanya zhoumi diseberang. Aku bisa mendengar nya bicara “Jera-ah” kata ummanya pelan. Usahanya sia-sia karena aku mendengarnya “jangan beritahu keadaanku yang sesungguhnya umma…aku belum siap jika ia mengetahuinya sekarang” kata zhoumi “baik nak. Istirahatlah” kata umma-nya. “kami sedang….dirumah neneknya. Sedang berlibur” kata umma-nya padaku. aku curiga. “oh, baiklah. Gomawo. Mianhae telah mengganggu liburan anda” kataku dan langsung menutup telpon. Apa maksut Zhoumi tenang keadaannya? Mengapa ia tak mau aku tau tentangnya? Apa ada penyakit dibalik mimisan yang selama ini dideritanya?
**
Aku membuka mataku karena sinar matahari yang menyilaukan. Sekarang hari sabtu. Karena tak ada kegiatan jadi aku melanjutkan aktivitas tidurku. Aku berencana tidur sampai sore jika perlu. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku “Jera, Zhoumi mencarimu tuh” kata umma “emmm….baiklah” kataku malas-malasan. Aku segar bangkit dan mandi serta memakai baju. Setelah segar aku menemui zhoumi diruang tamu “ada apa?” kataku padanya “temani aku….” Katanya “kemana?” tanyaku “ada yang ingin kutunjukan padamu” jawabnya. Aku pun mengangguk. Lalu ia menarik lenganku. Aku masuk kemobil auudinya dengan cap terbuka. “kita mau kemana?” tanyaku ditengah perjalanan “kau akan tau nanti” katanya sambil tersenyum. Aku memandang wajahnya. Wajahnya terlihat pucat sekali. Atau memang perasaanku saja ya? tapi kurasa ada sesuatu pada dirinya. Jantungku berdetak lebih kencang saat aku duduk disebelahnya. Ia mengemudi dengan sangat cepat. Sampai kami tiba disebuah taman yang sepi. Tak ada orang disini. Tetapi pemandangan taman ini sungguh sangat indah. Ia menarikku kebangku taman itu. Aku duduk dan ia pun duduk disebelahku. “ada apa? Kanapa kau membawaku kemari?” kataku penasaran. “sebenarnya….ehmmm” ucapnya ragu-ragu. Ia melihat kedalam mataku “saranghaeyo…” ujarnya sambil tersenyum menatapku. Aku kaget dibuatnya. Apa benar? Zhoumi menyukaiku? Aku pun menatapnya balik dan tersenyum “nado saranghaeyo…Zhoumu-ah” kataku “mwo? Kau serius?” katanya tak percaya “ne” kataku sambil tersenyum “aaaaah kukira aku bakal ditolak” katanya “padahal aku sudah menyiapkan mentalku jika aku ditolak olehmu” lanjutnya “jadi…karena ini kau tak jadi ikut pertandingan?” kataku menebak “ah tidak juga. Ada factor lain kok” katanya “factor lain? Apa itu?” kataku “aku akan melewati hari ini bersamamu sebelum aku pergi” katanya “mwo?! Kau mau kemana memangnya?” kataku. ia sekarang merubah posisinya. Sekarang kepalanya berada dipangkuanku. Posisinya sedang tiduran menghadap wajahku dan langit “ke tempat yang sangat jauuuuuuh sekali” katanya sambil tersenyum “kemana? Luar negeri?” kataku menebak “jauh lagi…” katanya sambil tertawa. “ini tidak adil…” dengusku kesal “kenapa jagi? Kau marah padaku?” katanya “ini tidak adil….kita baru saja jadian sekarang kau harus keluar negeri” kataku “tenanglah…aku tidak akan jauh darimu kok” katanya “tapi katanya kau mau ketempat yang sangat jauuuuh sekali” kataku masih kesal “tidak akan…kau akan menemukan aku dihatimu” katanya. ia pun langsung duduk tegak dan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Kulihat ia mengeluarkan sebuah kalung berbentuk bintang “ini…..kau akan menemukanku…aku adalah bintangmu. Kau akan selalu melihatku dimanapun kau berada karena aku akan menjadi bintang paling terang sepanjang malammu” katanya sambil memakaikan kalungnya untukku. Aku menangis karena terharu akan perlakuannya “aaah Jera-ah…kenapa kau menagis? Aku salah ya? mianhae” katanya panic “tidak….aku tersanjung padamu. Kau begitu baik padaku” kataku. ia pun mengelap air mataku dengan tangannya yang halur “sudah jangan menangis” katanya. aku pun entah mengapa langsung berhenti menangis. Lalu ia mulai tiduran lagi dipangkuanku. “jika kita jodoh dan kita menikah…kau mau punya anak berapa?” katanya “ehmmmm…. Aku ingin anak kembar saja. Tapi cewek cowok” kataku. aku melihat matanya terpejam namun senyuman terpampang diwajahnya “kalau kau?” tanyaku balik padanya. Ia tak menjawab. Matanya terus terpejam namun lama-lama senyumnya hilang dari wajahnya “Zhoumi?” panggilku, ia tetap tak menjawab “zhoumi? Mi? heeeyyy kau mau punya anak berapa?!?!” kataku. “Zhoumi?! Jangan bercanda…tidak lucu tau” kataku sambil menepuk nepuk pipinya. Pipinya dingin sekali. “ZHOUMI?!?!ZHOUMIIIIIIIII” teriakku. Sekarang aku sudah mulai panic dibuatnya “ZHOUMI!!!TIDAKKKK!!!JANGAN TINGGALKAN AKU”teriakku. Aku pun menangis melihat tubuh zhoumi tanpa nyawa berada dipangkuanku
**
“Zhoumi….” Ucapku lirih saat pemakaman zhoumi. Aku terus menangis sepanjang hari ini. Melihat jasad Zhoumi yang sudah didalam tanah. Aku melepas kalung yang diberikan zhoumi dan menyimpannya disakuku. Aku tak mampu memakainya tanpa adanya kehadiran Zhoumi dihadapanku. “Jera-ah” kata seorang wanita , ternyata ia umma-nya Zhoumi. Aku langsung menyeka air mataku “ini…..zhoumi menitipkannya padaku untuk diberikan padamu” kata wanita itu. Lalu ia pergi.
*Author POV*
Jera membuka kembali surat yang ia masukan kedalam kotak tadi. Ia membacanya lagi untuk yang kesekian kalinya
Jera…
Aku tau saat kau membacanya aku sudah tiada…aku hanya ingin mengatakan ini padamu. Saranghaeyo… aku mencintaimu Lee Jera. Saat kau menemaniku latihan. Saat kau berteriak memarahiku saat permainan basketku jelek. Saat kau mengambil kan minum untukku. Saat kau panic melihat darah mengalir dari hidungku. Mianhae….selama ini aku selalu berbohong padamu. Aku terkena leukemia. Dan aku yakin hidupku tak lama lagi. Makanya aku menulis surat ini untukmu. Aku sudah mengatakan perasaanku padamu. Aku ingin…jadilah orang yang tegar. Anggaplah aku sebagai kenangan manis dihidupmu. Carilah orang yang benar-benar kau cintai… karena seberat apapun hidup aku yakin kau bisa melewati semua rintangannya karena kau gadis yang kuat… Lee Jera, mianhae jika selama ini aku selalu merepotkanmu. aku akan terus menjadi bintangmu. Bintang yang bersinar dimalam hari yang selalu ada untukmu. Dan juga bintang yang selalu ada untukmu. Jagalah kalung itu baik-baik. Aku ingin kita bertemu lagi suatu hari nanti. Meskipun itu tak mungkin. Jagalah dirimu Jera…
Zhoumi
Jera menangis membaca surat itu. Ia lalu menatap langit dan kecewa tak ada satu bintangpun yang menghiasi langit. Baru kali ini ia kehilangan bintangnya. Baru malam ini karena sebelumnya bintangnya selalu hadir dilangit menghiasi pemandangan. “Lee Jera” ucap seorang laki laki hadapannya. Jera pun menatap laki laki itu dengan tak percaya. Matanya hampir keluar dan mulutnya menganga lebar “aku sudah janji tak akan meninggalkan mu” kata lelaki itu sambil tersenyum pada Jera
“zhou…..zho…zhoumi?”
*THE END*
*Kim Raehwa POV*
Dear diary…
Aku tau aku tak akan pernah disisinya…karena aku hanyalah sampah tak berguna yang digerogoti penyakit disekujur tubuhku. Semua orang memperlakukan beda dengan orang lain. Semua orang tak menganggapku seperti orang biasa. Aku bosan karena terus mendapatkan perhatian yang berlebih.kadang aku melarang orang tuaku dan saudaraku bersikap berlebihan. Karena aku bosan menerima perlakuan tersebut. Aku ingin secepatnya bebas. Agar semua orang tak kerepotan dengan ku lagi. Aku tak ingin membebani orang lain. Aku hanya ingin diberlakukan selayaknya orang normal. Dan…yang paling kuinginkan adalah keluar dari kamar dan gedung terkutuk ini. Yang menyebabkan aku kehilangan semuanya. Aku ingin udara bebas. Aku ingin bermain layaknya remaja normal. Dan aku ingin mempunyai teman yang sebaya.hanya itu yang kuminta. Intinya aku hanya ingin meminta kehidupan seorang remaja yang normal, bukan yang seperti ini…
Kim Raehwa
**
Sudah 11 tahun aku dirawat disini. Karena penyakit lemah jantungku aku harus terus menerus berada dirumah sakit dari umur 5 tahun. Kadang aku iri jika sepupuku yang berumuran sama denganku menengokku. Aku ingin kehidupan remaja normal. Seperti remaja yang lainya. “suster, apa aku akan terus disini sampai aku tua?” kataku pada perawat suatu hari “sabar ya sayang, sebentar lagi kau akan sembuh dan kau bisa bersekolah dan hidup normal lagi” kata suster. Selalu saja jawabannya begitu. Aku bosan mendengarnya. Aku pun bosan terus berada di kamar rawatku. Kuputuskan untuk berjalan-jalan keluar dan berkeliling rumah sakit. Tentu saja aku tak lupa membawa psp ku yang selalu saja menemaniku disaat aku sedang bosan. Aku pun ketaman rumah sakit, disana ada pohon chery yang rindang yang biasa menjadi tongkronganku. “pagi Raehwa…” sapa dokter Cho “ah pagi dok..” kataku membalasnya sambil tersenyum. Aku kenal semua dokter yang ada disini. Aku paling dekat dengan dokter Cho, kebetulan ia mempunyai anak perempuan bernama Cho AhRa, Ahra onnie sering kerumah sakit untuk menjeput appanya. Kadang ia mengobrol denganku saat appanya sedang sibuk. Ahra onnie sudah kuliah, dia mengambil jurusan sastra inggris di seoul international university. Aku pun menuju ke pohon chery tempat tujuanku, setelah sampai dibawah pohon, aku pun duduk dan langsung menyalakan pspku. Aku main pspku dengan tenang. Hari ini hari yang cerah batinku. Aku pun semakin serius memainkan pspku karena sudah level terakhir. “DORRRR!!!” kata suara yang mengagetkanku “ah onnie…kau mengagetkanku saja” kataku pada AhRa yang memang sangat iseng sekali “habisnya kau serius sekali sih hahaha” katanya sambil tertawa, mungkin ia melihat ekspresiku yang aneh, tebakku. “kau suka main game? Sama dengan adikku. Dia game holic. Pernah begadang semalam garagara ingin menamatkan 4 game sekaligus dalam sehari sampai keesokan harinya ia sakit” kata AhRa “jinjja?” kataku “ne, mana ya orangnya…tadi ia ikut denganku kok. Ah itu dia…. KYUHYUNNIE….!!!” Teriak Ahra memanggil kyuhyun, adiknya. Aku takbisa melihatnya dengan jelas sampai ia berada didekat kami “wue?noona?” katanya bingung “Kyuhyunnie, perkenalkan ini Raehwa…Raehwa ini kyuhyun adikku” kata Ahra “Kim Raehwa imnida…” kataku sambil tersenyum, namun mataku menatap penampilan kyuhyun dengan penasaran. Ia tinggi, tubuhnya seimbang dengan tingginya. Wajahnya lumayan, rambutnya coklat berantakan dengan poni ditata keatas. Aaah melihatnya mengingatkanku pada tokoh Edward Cullen yang di novel Twilight. “ Cho kyuhyun imnida” katanya sambil membalas senyumku. Senyumnya menarik. Ia memiliki kharisma “Hae-ah kyu ini seumuran denganmu, kau 16 tahun kan?” kata Ahra. Aku pun mengangguk “kyu, dia game holic juga nih sama sepertimu. Eh appa sudah keluar dari ruangannya?” kata ahra “belum noona, dia tadi mendapatkan panggilan darurat untuk operasi” kata kyu “jadi…kau suka main game juga?” kata kyu “ah tidak jg…aku hanya bermain saat mengisi waktu luangku. Ahra onnie hanya melebih-lebihkan” kataku “oh begitu. Kau sendiri saja disini. Orang tuamu mana?” kata kyu “orang tua ku lagi berada diluar negeri” kataku “kau disini dengan siapa?” kata kyu heran “kadang sepupu dan saudara ku menjengukku” kataku “kadang? Tega sekali mereka. Memangnya kau sudah berapa lama dirawat disini? Sampai tak ada yang memperhatikanmu seperti ini” kata kyu “sudah 11 tahun aku dirawat. Ah aku sudah terbiasa dengan ini lagipula aku yang menyuruh mereka untuk jangan setiap hari menjengukku. Aku tak ingin merepotkan mereka semua” kataku “jinjja? 11 tahun? Kau serius?” kata kyu “ehem seperti itulah” kataku.
*Cho Kyuhyun POV*
Benar-benar gadis yang tegar. 11 tahun dirawat dengan perhatian yang kurang. Tapi sepertinya ia bahagia diberlakukan seperti remaja normal. Aku kira ia hanya baru beberapa hari dirawat karena wajahnya segar sekali. Tak ada pucat-pucatnya seperi pasien yang lainnya.
“noona?” kataku pada Ahra noona saat dirumah “wue?” kata noona “itu…Raehwa, dia sakit apa sih kok bisa sampai 11 tahun dirawat?” tanyaku pada noona “dia memiliki kelainan jantung, lemah jantung. Jantungnya sangat rentan. Maka dari itu untuk berjaga-jaga pihak keluarganya menaruh dia dirumah sakit sampai ia menjalani operasi nanti saat ia berumur 18 tahun, karena jantungnya baru bisa dioperasi saat umur 18” kata noona “oh begitu” kata ku “dia gadis yang manis, cantik malah menurutku. Aku senang melihatnya tersenyum. Lesung pipinya ituloh membuatku iri. Matanya bulat pula ahhh andai ia tak punya penyakit dan berkehidupan normal, kuyakin banyak cowok yang menyukainya” lanjut noona. Aku sebenarnya mendengarkan apa yang noona katakan.tapi aku lebih fokus dengan pspku “hey jelek…kau dengar tidak apa yang aku katakana?” katanya “ehemmm” kataku “dasar kau…sudah pacaran sana dengan pspmu” katanya seraya meninggalkanku sendiri diruang tv.
*Kim Raehwa POV*
“halo Raehwa..aku kesini membawakan makan malam untukmu” kata suster seraya masuk dan menghampiriku “kamsahamnida suster” kataku. aku pun makan ditemani oleh suster tersebut “emmm suster, kau baru ya kerja disini? Aku baru melihatmu” kataku “ne, aku baru 3 hari yang lalu. Perkenalkan aku Shin Soojung” katanya “kau panggil saja aku onnie, tak usah suster ah aku baru 19 tahun kok” katanya “ah baiklah onnie, onnie baru masuk kerja atau dipindah kerja?” kataku “baru masuk, kebetulan juga rumahku tak jauh dari sini” katanya sambil tersenyum. Onnie terlihat cantik. Wajahnya bersih berkulit putih. Ia pun tinggi, aku yakin jika ia mengikuti audisi untuk menjadi model ia akan masuk. Wajahnya cantik menurutku “jadi Raehwa…kau jarang bertemu keluargamu?” kata onnie “ah jarang mereka semua sibuk” kataku “kau tak merindukan mereka?” katanya “aku selalumerindukan mereka setiap saat” kataku sambil menerawang jauh “ahahaha sebentar lagi kau akan bisa berkumpul lagi dengan keluargamu”katanya “kau cantik sekali Raehwa…” katanya “ah onnie bisa saja jika bercanda, aku kan masih kalah cantik dengan onnie.” Kataku “aku suka matamu yang bulat” katanya “jinjja? Aku malah merasa aneh mataku tak seperti orang korea pada umumnya” kataku “aku malah suka mata sepertimu” katanya. setelah aku menghabiskan makananku, diapun membereskannya “tidur yang nyenyak yaaa Raehwa-ah” katanya sambil menutup pintu kamarku
**
Seminggu kemudian…
Aku sedang membaca novel dikamarku “tok tok tok tok…” tiba tiba pintu kamarku ada yang mengetuk “nuguyeyo?” kataku “ini aku, kyuhyun” katanya “ah silahkan masuk” kataku beranjak dari tempat tidur. Ia pun masuk membawa seikat mawar putih . ia memakai kaus putih dan jaket kulit berwarna hitam, menurutku itu simple namun sangat cocok padanya “annyeonghaseyo” katanya saat masuk “annyeonghaseyo kyuhyunnie, silahkan duduk” kataku “ini kubawakan untukmu” katanya sambil menyerahkan mawar itu padaku “ah indah sekali, kamsahamnida” kataku “kau sedang menunggu dokter cho?” kataku menebak “iya begitulah, appa ku lama sekali jadi kuputuskan untuk mampir kekamar rawatmu saja” kata kyuhyun “oh begitu” kataku “boleh pinjam psp? Pspku ketinggalan dimobil” kata kyuhyun. Aku pun menarik laci dan mengambil pspku “ini” kataku. dia pun memainkan pspku “game mu sedikit sekali” katanya “aku jarang menambahkannya” kataku “ahhh ini sih gampang saja. Apa kau tak bosan dengan permainan yang ini ini terus?” kata kyuhyun “yaaa bosan sih tapi yaaaa mau bagaimana lagi aku kan jarang keluar dari rumah sakit untuk jalan-jalan” kataku. kulihat kening kyuhyun berkerut. Kurasa ia sedang memikirkan sesuatu “boleh kubawa pspmu?” katanya. aku pun untuk sesaat tercengang “ahahaha tak mungkin aku akan mengambilnya, nih” katanya sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celana nya “sebagai jaminan bahwa pspmu akan kembali” katanya. “ah, yasudah” kataku masih bingung. Ia pun keluar dari kamar dan aku sendirian dikamar. Kuputuskan untuk mengambul majalah dimeja dan mebacanya “Raehwa” kata AhRa sambil masuk kekamarku “wue? Onnie?” kataku “annyeonghaseyo Raehwa” katanya sambil berjalan kearah ku “kau baik-baik saja?” katanya “aku bosan” kataku, ia tersenyum
“ja ireona(ja ireona) da iriwa(da iriwa)
mak heundeureo (ni saenggak modu) Just shake it up, Shake it up”
ponsel kyuhyun yang berada dimeja sebelah kasurku berbunyi, Ahra onnie menatapnya bingung “kau…angkat” katanya padaku, kuangkat ponselnya. “Yoboseyo…ah kyuhyunnie. Apa kabar kau? Eh tau tidak didekat sekolah dibuka toko games baru. Kapan kita bakal mengunjunginya? Kau pasti akan senang kudengar koleksi disana sangat lengkap” katanya sebelum aku mengatakan sepatah kata apapun “ini bukan Kyuhyun” kataku lembut padanya “wue? Ah mianhae…eh tungu, di ponselku tulisannya kyuhyun. Wah kau mengambil hpnya ya? cepat kembalikan!!!” katanya casciscus “kyuhyun menitipkan hpnya padaku, haha nanti kusampaikan padanya kau menelpon” kataku “oh mianhae telah berburuk sangka padamu. Sudah dulu ya byeee” katanya sambil menutup telpon. Aku pun meletakkan ponselnya dimeja “kyuhyun mengambil barangmu yang mana?” kata Ahra onnie “dia meminjam pspku katanya gamenya mau ditambahin” kataku “oh, dasar anak itu selalu saja tak berpikir dengan otak, seenaknya saja mengambil barang orang dan menjaminnya dengan barangnya” katanya sambil berapi-api “tadi kyuhyun kesini?” Tanya Ahra onnie “iya, aku tak menyangka ia kesini. jarang ada yg kesini kecuali kau, suster dan dokter” kataku “ah kau ini. Yasudah aku keruangan appaku dulu. Barangkali ia sudah selesei mengurus dokumen pasiennya” katanya
**
“Annyeonghaseyo” kata kyuhyun sambil memasuki kamar rawatku. Aku tersenyum menjawab salamnya “ini pspmu…sudah kuisikan game.”kata kyuhyun “ah kamsahamnida” kataku, kyuhyun pun tanpa dikomando lagi mengambil hpnya “oiya…tadi temanmu ada yang nelpon” kataku “siapa?” tanyanya “aishhh, aku lupa menanyakan namanya” kataku “paling Donghae atau Eunhyuk” katanya “hah?” kataku bingung “iya, hanya mereka yang tau nomor ini selain keluargaku” katanya “oh begitu, tadi AhRa onnie sudah pulang sepertinya.” Kataku memberitahunya “aku tau. Aku hanya ingin ngobrol denganmu saja” kata kyuhyun “jadi…kau sudah dari umur 5 tahun dirawat disini?” tanyanya “ya begitulah, kurasa kau tau alasan bagaimana aku dirawat disini” kataku “kau punya keturunan kelainan jantung?” katanya “rasa-rasanya hanya aku yang kelainan jantung dikeluarga ku, makanya keluarga besarku sangat cemas saat pertama kali aku pingsan karena kelelahan dan setelah diperiksa aku mempunyai penyakit ini” kataku “orang tuamu?” Tanya kyu “mereka sangat baik. Mereka rela kerja mati-matian demi bisa mengobatiku. Sekarang mereka ada di Kanada untuk menjalankan bisnis mereka” kataku “saudaramu? Kakak atau adikmu?” katanya. aku pun menunduk. Dan mengambil nafas sesaat “aku hanya anak tunggal” kataku “oh mianhae” katanya dengan nada menyesal. “kau sekolah dimana, kyu?” tanyaku “di Shinhwa high school, kau home schooling ya?” tebaknya “bukan home schooling, tapi hospital schooling” kataku. ia pun tertawa. Entah mengapa ada perasaan hangat dan nyaman saat berada didekatnya. Ia anak yang asik diajak ngobrol, ia pun mengajariku cheat cheat games supaya praktis. Ia juga memberiku gelang, katanya sebagai tanda persahabatan karena aku sahabat ceweknya yang pertama…
*Cho Kyuhyun POV*
2 tahun kemudian…
Aku berjalan dilorong rumah sakit sambil membawa bunga mawar merah, bunga kesukaan Raehwa. Aku senang bisa mengenalnya dalam 2 tahun belakangan ini. Kalau saja waktu itu aku tak ikut dengan Ahra noona mungkin saja aku takkan bisa sedekat ini padanya. Noona benar…ia gadis yang cantik, ramah, ceria dan membuat suasana disekelilingnya senang. Aku pun tiba diruang rawat Raehwa, langkahku untuk masuk keruangan pun tertahan karena ada ayahku yang sedang mengobrol dengan Raehwa dan orang tuanya “dalam sebulan kedepan kau akan melaksanakan operasi Raehwa-ah” kata appa “aku tau dok…” katanya sambil tersenyum, untung nya pintu kamar raehwa ada celah kaca jadi aku bisa mengintip dari luar “kau jangan terlalu lelah, aku takut jantungmu akan lemah” kata dokter “ne, arraseo” katanya. dokter pun melangkah keluar sementara aku pun cepat-cepat sembunyi agar tak terlihat oleh appaku itu. Kulihat kedua orang tua Raehwa juga keluar mengikuti dokter tersebut “jadi bagaimana kemungkinan operasinya dok?” Tanya ibunya Raehwa “kemungkinan selamat hanya 40%. Karena dilihat dari perkembangan selama 13 tahun terakhir, jantungnya sangat lemah sekali. Kami tidak dapat menjamin, tapi pasti kami akan berusaha semaksimal mungkin” kata dokter sekaligus appaku. Kulihat ibu Raehwa menangis “jadi dok….mungkinkah ia selamat?” katanya “kami belum bisa memastikan karena belum diadakannya operasi. Tapi kami janji bu kami akan berusaha semaksimal mungkin. Karena jika operasinya gagal, bukan hanya ibu yang akan sangat kehilangan Raehwa tapi seisi rumah sakit juga akan kehilangan. Apalagi anak-anakku juga sudah dekat dengannya” kata dokter “mungkin ibu bisa keruanganku saja untuk berbicara. Tak enak disini ibu, mari…” ajak dokter
Aku pun keluar dari tempat persembunyian setelah mendengar semua pembicaraan mereka, 40%? Hanya itukah? Aku berjalan dan masuk keruangan Raehwa “Kyuhyunnie…kau datang” kata Raehwa saat melihatku masuk “pasti. Aku bawakan bunga kesukaanmu nih…” kataku. tanpa komando, aku langsung meletakkan bunga itu divas meja. “kau baik-baik saja?” kataku “sangat baik” katanya sambil tersenyum. Aku pun tertawa.melihat senyumannya “omo? Mengapa kau ketawa? Adakah yang lucu?” katanya “ah tidak, ekspresimu ituloh” kataku. aku tak sengaja melihat tangan kirinya dan menemukan gelang yang kuberi ke dia sudah tak ada “Raehwa…gelang persabatan kita….” Kataku terpotong-potong. Kulihat ia langsung menunduk “mianhae kyu…jeongmal mianhae aku tak tau dimana gelang itu. Kurasa aku menghilangkannya” katanya “ah yasudah taka pa” kataku kecewa. Namun aku tersenyum demi menyembunyikan kekecewaanku itu “kau kecewa ya padaku kyu? Mianhae..aku tak sengaja” katanya “sudahlah tak apa” kataku sambil terus tersenyum. Aku takut ia akan mengetahui bahwa sebenarnya aku sangat kecewa..karena…..itu bukan gelang persahabatan. Itu gelang yang kuberi padanya dengan tulus. Karena aku sangat menyukainya. Aku tak berani mengungkapkan perasaanku ini padanya. Karena aku takut persahabatan kami rusak hanya karena aku menyukainya.
**
Aku masuk sekolah dengan tak bersemangat. Baru kali ini aku merasa tak punya semangat sama sekali. Aku tau ini adalah tahun terakhirku berada disekolah ini “kyu…kau kenapa? Diam aja daritadi. Ada masalah ya?” Tanya donghae, sahabatku “aishhh kau ini menggangguku saja. Aku sedang berfikir tau” kataku “oh mianhae…kau mikirin siapa sih? Temanmu yang dirumah sakit itu? Siapa namanya aku lupa” katanya “ Raehwa…” jawabku lirih “ya itu dia namanya. Kau kenapa dengannya? Kau sudah menyatakan perasaanmu?” kata donghae, ya ia tau bahwa aku suka pada Raehwa “belum” kataku “aduh kyu… kau ini. Kau kan laki-laki kau harus berani dong! Sepertiku ini. Aku berani menyatakan perasaanku pada Hyemi dan kukira ia akan menolakku ternyata ia malah menerimaku. Ingat…keadaan selalu berubah kyu. Barangkali kau diterima olehnya”kata donghae panjang lebar “aishhh kau ini, kau jadi penasihat masalah tentang cinta saja sana…kau ahlinya memang” kataku “yaaa kan berdasarkan pengalaman juga kyu” kata donghae
Sepulang sekolah aku heran mengapa Ahra noona menjemputku “ayo cepat kyu kita kerumah sakit…” kata AhRa noona. Aku pun bingung namun langsung saja aku menaiki mobil “memangnya mengapa noona? Ada masalahkah?” kataku saat dijalan “Raehwa dalam keadaan kritis…kata appa, ia tadi malam pingsan ditaman rumah sakit. Ia mencari sesuatu sepertinya. Kata para suster Raehwa mencarinya seharian sampai ia tak makan dan tak minum. Aku takut ia terjadi apa-apa. Mengingat keadaan jantungnya yang sangat rentan sekali” kata noona. Aku pun langsung sadar. Apakah ia mencari gelangnya? Atau tidak? Lalu apa yang ia cari?
Sesampai dirumah sakit . aku dan Ahra noona pun langsung berlari keruang ICU. Tampak disana ibu Raehwa menunggu didalam ruang ICU sambil menangis. Aku dan Ahra noona pun masuk keruangan “tante…maaf kami baru bisa menjenguk sekarang” kata noona “tak apa. Aku takut sesuatu terjadi padanya” kata Ibu Raehwa “jadi…mengapa ia sampai menjadi seperti ini?”tanyaku “aku tak tau nak. Aku pun juga kaget saat pihak rumah sakit menelponku, mengabarkan bahwa Raehwa dalam keadaan kritis.” Katanya. “ibu keluar dulu ya nak…ingin mencari makanandan minuman, sudah dari semalam ibu disini tak makan ataupun minum.” Katanya lalu meninggalkan ruangan “Raehwa…” kataku lirih sambil memegang tangannya yang mungil dan lembut itu “kau babo sekali. Sudah kubilang biarkan saja gelang itu hilang” kataku “raehwa…sadarlah ..kami semua mencemaskanmu” kataku. aku tau ini sia-sia tapi aku berharap ada keajaiban muncul. Tak terasa air mataku jatuh. Baru kali ini, seorang Cho Kyuhyun menangis. “sudahlah jangan menangis kyu…Raehwa akan baik baik saja. Ia akan berjuang untuk tetap hidup demi kita semua” kata Ahra noona menenangkanku. Aku tak sanggup melihat tubuhnya dililit oleh selang. Aku tau itu untuk membantunya supaya tetap bertahan tapi entah mengapa hatiku miris melihatnya. Raehwa…sadarlah…
**
Aku menunggu disamping tempat tidur Raehwa. Sudah 3 hari ia tak sadar. Sudah 3 hari juga aku tak masuk sekolah demi menjaganya. Aku bergantian dengan ibunya untuk menjaganya. “ Raehwa…sadarlah..”” ujarku lirih “Raehwa…”kataku “aku pun menggenggam tangannya untuk kesekian kali. Entah berapa kali aku mengharapkan ia sadar. Tangannya tiba-tiba bergerak walaupun secara perlahan. Aku pun menahan napas melihatnya. Akhirnya…ia sadar juga. Dan matanya bergerak dan bergetar. Perlahan matanya yang bulat terbuka “ky..uhyunnie…” katanya lirih “ Raehwa..kau sudah sadar? Sudah jangan banyak bicara dulu. Kau masih lemah…” kataku sambil panik. Aku pun mengambil ponselku dan menelpon ibunya Raehwa “yoboseyo…tante, Raehwa sudah sadar..tante cepat kemari ya..ne, arraso” kataku lalu menutup telpon. Aku pun langsung menatap kearah Raehwa “mianhae kyu…jeongmal mianhae…aku belum bisa menemukannya” kata nya “sudahlah…aku tak apa yang penting kesehatanmu dulu…” kataku. ia pun tersenyum tipis “kyuhyunnie…ada yang ingin kukatakan sebelum terlambat” katanya lirih. Masih bisa kurasa ia masih lemah “kau jangan banyak bicara dulu, kau masih lemah aku takut kau akan kenapa-napa. Sudahlah kau istirahat dulu saja” kataku “tidak….aku sudah berjuang untuk bisa sadar hanya demi mengatakan ini padamu” katanya. aku pun diam membisu “Cho Kyuhyun….saranghae” katanya. aku pun kaget dibuat olehnya. Kukira perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan “hanya itu yang akan kukatakan…terima kasih atas semuanya kyu…2 tahun belakangan ini adalah masa-masa terindah. Karena…..kau berada disisiku” katanya lemah, tanpa terasa aku menangis. Perlahan matanya tertutup….senyumnya hilang dari wajahnya… dan garis datar panjang terpapang oleh monitor “tidak….Raehwa…..bertahanlah…kau tak boleh pergi dulu….RAEHWAAAA!!” ujarku tak karuan “Raehwa….nado saranghae…jangan pergi Raehwaaaa!!!” teriakku. Aku tau ini sia-sia karena Raehwa sudah pergi..meninggalkan semuanya…meninggalkan ku...
*Author POV*
Kyuhyun menata batu lisan Raehwa sambil meletakkan seikat mawar putih dimakamnya. Sudah setahun semenjak kepergian semenjak kepergian Raehwa. Kyuhyun mengeluarkan sebuah gelang dari dalam saku celananya “Raehwa…aku menemukannya. Aku menemukan gelang ini tepat saat upacara pemakamanmu selesei…gelang ini ada dilaci ruang rawatmu. Mengapa kau tak melihatnya? Mengapa kau sangat mencarinya? Ini yang membuat kita berpisah….aku sebenarnya…saranghae Raehwa…sampai kapanpun aku tetap akan mencintaimu. Raehwa…jika seandainya kau masih ada, kami semua tak akan pernah merasa kehilangan seperti ini…Raehwa…”kata kyuhyun. Tanpa terasa air matanya jatuh ketanah. Ia menangis didepan nisan Raehwa. Saat sedang terisak, kyuhyun mengambil surat Raehwa..surat terakhir yang Raehwa kasih untuknya saat ulang tahun kyuhyun, saat itu Raehwa masih ada
Dear sahabatku, sang Game Holic Cho Kyuhyun
Saengilchuka kyuhyunnie…ah ini ke 2 kalinya aku merayakan ulang tahunmu. Semoga saja tahun depan aku bisa merayakannya lagi denganmu. Aku hanya ingin, berterimakasih padamu…atas semuanya. Atas perhatianmu, kehadiranmu, dan keceriaanmu yang membuatku makin semangat walau aku tau umurku tak menentu. Aku ingin kau menjadi seorang lelaki yang kuat…jangan gampang nangis…hahaha walaupun sebenarnya aku ingin melihatmu menangis, habis aku sebal mesti kau yang terus menerus melihatku menangis. Jangan mudah menangis sepertiku. Aku ingin kita menjaga persahabatan ini selamanya. Tak peduli jika suatu hari nanti aku pergi. Aku akan terus mengingatmu disana. Ah ngomong apa sih aku, seperti orang mau mati saja ya hahaha. Aku ingin melihat kau lulus sekolah, aku menantikan hari disaat kau berlari kekamar rawatku sambil memegang ijazah kelulusan. Karena sebenarnya aku iri padamu. Kau bisa bersekolah dengan normal sedangkan aku tidak… kyuhyunnie..kuharap kau mendapatkan kebahagiaan yang lebih dihari ulang tahunmu yang ke 18 tahun. Aku baru akan berulangtahun sebulan lagi…
Kyuhyunnie…aku takut jika aku sudah sembuh lagi, kita tak akan bertemu. Tapi aku lebih takut jika nanti…operasiku gagal…aku tak bisa bersamamu lagi. Tapi aku akan terus bisa mengenangmu. Kau ingat gelang persahabatan kita? Gelang itu akan kujaga sampai mati… aku tak sanggup bila gelang itu hilang karena gelang itu barang paling berharga yang kupunya. Kyuhyunnie…semoga kau suka hadiahku. Maaf bila jaket rajutanku jelek.
Kim Raehwa
“kau melewatkan perayaan ulang tahunku Raehwa… aku sudah 19 tahu sekarang” katanya masih menangis. Kyuhyun pun bangkit dan segera pergi dari makam itu. Desir angin yang deras membuat kyuhyun merasa kedinginan. Ia pergi menuju mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi
*THE END*







Stephanie (Tiffany), Taeyeon, Jessica, Hyoyeon, Sooyoung / Second Row LR / Soyeon, Yuri, Yoona, Soonkyu (Sunny), Juhyun (Seohyun)





