0

Beautiful Memories

*Author POV*

Jera membuka sebuah kotak dibangku taman, ia mengeluarkan sebuah surat dan membacanya. Terlihat air mata mengalir dipipinya saat ia membaca surat itu. Entah berapa kali ia membaca surat itu sampai saat ini. Lalu dimasukkannya surat itu kedalam kotak dan ia mengeluarkan sebuah kalung berbentuk bintang. Digenggamnya kalung itu erat-erat sambil menatap langit dengan tatapan hampa.Jera berharap ia bisa melihat bintangnya. Bintang yang daridulu bersamanya. Dan sekarang bintang itu ada digenggamanya. ia sudah mempunyai kalung itu lebih dari 2 tahun tapi sampai saat ini ia tak berani memakainya. Ia terlalu takut mengingat kenangan manis yang sekarang terasa pahit. Sebuah bintang yang dulu tampak nyata dihadapannya. Seorang yang terus ia kenang sebagai bintangnya. Ia tersenyum sambil menatap langit dan menggenggam tangannya. Walaupun matanya bengkak karena tangisan namun bibirnya tersenyum manis “Aku akan selalu mendukungmu…wahai bintangku” kata Jera. Ia lalu mengingat kejadian 2 tahun lalu. Kenangan manis yang telah menjadi pahit dihidupnya…

*Lee Jera POV*

“Zhoumi….yang bener dong main basketnya…” kataku menantang Zhoumi, sahabatku “enak saja kau ngomong!!! Memangnya main basket itu gampang apa?” katanya “YAK! Kau kalau mau jadi pemain inti harus serius makanya, ayo cepat masa kau kalah sama Donghae” kataku pada Zhoumi. Ia pun mengambil bola yang baru saja ia lemparkan ke ring dan memainkannya lagi. Sebenarnya aku tak tega melihat Zhoumi main basket terlalu berlebihan, apalagi ia sering mimisan setelah bermain basket. Namun aku sudah berjanji padanya supaya aku terus mengingatkannya berlatih serius karena tergetnya adalah masuk ke dalam pemain inti “HAH… sudah yaaa untuk hari ini, kau terlihat sangat capek sekali” kataku yang tak tega melihat zhoumi yang makin lama makin kewalahan “sudah? Yaaah padahal pengen terus latihan, yasudah deh minggu depan lagi aja” katanya. ia pun bergegas keruang ganti dan aku menunggunya digerbang sekolah, kami memang tetangga, jadi biasa pulang bareng jika selesei pelatihan basket “ayo pulang…” katanya seraya menghampiriku. Kulihat ia menyumpal hidungnya dengan tissue “kau taka pa? mimisan lagi?” kataku padanya “iya, aku tak apa kok, hanya mimisan kecil” katanya “kau tak punya penyakit atau semacamnya kan?” tanyaku cemas padanya “hey…tenang saja. Aku sudah terbiasa mimisan seperti ini, Jera-ah” katanya. walaupun masih cemas namun aku mengangguk saja. Ia terlalu memaksakan diri…tapi sebagai sahabatnya aku juga harus mendukungnya supaya ia bisa menjadi pemain inti.

**

Keesokan harinya…

“Hyemi…sudah piket belum?” kataku pada temanku, Hyemi “ehmm….belum eheee” katanya sambil nyengir “cepat piket sana!!! Udah tau kelas kotornya kaya gini” kataku “lah kemarin kan yang nyampah kamu, kenapa aku yang disuruh piket?” katanya “3 alasan, karena aku ketua kelas dan kau hari ini ada jadwal piket dan juga…..kau sesie kebersihan!!!hahaha makanya jika ingin menjadi sesie kebersihan mikir dulu” kataku sambil terkekeh “aturan kan ketua kelas yang bertanggung jawab jika sesie nya ga mau piket. Jadi kamu dong yang piket” kata Hyemi. Kulihat Donghae (cowonya Hyemi) masuk keruang kelas tanpa sepengetahuan Hyemi, aku tau Donghae sangat cinta pada kebersihan “SEPERTINYA ADA YANG TIDAK MAU PIKET INI…” kataku, sengaja nada bicaraku kutinggikan supaya Donghae bisa mendengarku. Ia pun langsung menghampiri Hyemi “aaah jagiya…kau piket sana. Aku risih lihat kelasmu” kata Donghae pada Hyemi “aaaaah, baiklah. Awas kau nanti Jera!!” kata Hyemi langsung menuruti perkataan Donghae.

Sepulang sekolah aku langsung ke ruang olahraga, kulihat Zhoumi sudah berlatih sendirian, yah, kuakui anak itu benar-benar memiliki semangat yang luar biasa. Ia ingin mengalahkan Siwon sunbae, bintang basket disekolahku. Aku melihatnya latihan tanpa ia sadari. Gerakan nya makin lincah, ia makin pintar menguasai teknik basket. Kulihat ia terus melemparkan bola kekeranjang. Sesekali ia jongkok karena kelelahan “istirahatlah dulu…jangan memaksakan diri” kataku. zhoumi langsung melihatku kaget “sejak kapan kau disana?” ucapnya “daritadi…makanya kau jangan terlalu serius dong” kataku “ah kau ini kaya gatau aku saja” katanya. tak lama kemudian anak-anak kelas 2 datang keruang olahraga. Memang hari ini jadwal anak kelas 2 berlatih basket. Kalau kelas 1 hanya sekali dalam seminggu itupun hari senin. Kulihat Siwon dan Hangeng mengambil bola dan memainkannya 1 lawan 1. Siwon sunbae dengan lihai melewati garis pertahanan Hangeng sunbae dan ia pun mengshoot bolanya. Masuk. Aku ternganga melihat permainannya. Sangat luar biasa. “kira-kira aku bisa tidak ya seperti siwon hyung?” kata Zhoumi. Aku kaget karena tiba-tiba Zhoumi sudah berada disampingku melihat permainan Siwon sunbae “ya bisa saja sih. Kalau latihan lagipula kau hanya bermodal latihan saja, kalau siwon sunbae kan sudah punya bakat ditambah dengan latihan. Wajar saja kalau dia jago seperti itu” kataku “terus bakatku apa dong?” kata Zhoumi “yaaa mana ku tau. Tanya saja pada dirimu” kataku sok cuek “ah kau ini. Ayo pulang. Tidak enak ah berada diantara kakak kelas begini” katanya. akupun pulang bersama Zhoumi menggunakan bus.

**

“aku berhasillll” kata Zhoumi “mwo? Kau berhasil apa?” kataku sok gatau “ah kau ini…aku jadi pemain inti” kata Zhoumi. Ya, setahun telah berlalu. Sekarang kami sudah kelas 2. Dan zhoumi pun menjadi tim inti basket “latihanmu selama ini tak sia-sia Zhoumi” kataku “semuanya berkat kau juga, Jera-ah” katanya “aku kan sudah berjanji, aku hanya menepati janjiku saja” kataku. ia pun tersenyum terhadapku. DEG! Kenapa jantungku berdetak 2 kali lebih cepat saat melihat senyumnya kali ini? Ah sadar Jera…kau tak boleh berpikiran terlalu jauh. “kau akan menonton pertandingan perdana ku kan?” katanya “tentu saja, kapan pertandingannya?” kataku “emmm sabtu besok, sekarang hari apasih?” tanyanya. Aduh anak ini masa lupa sih kalau ini hari senin? “senin, hey kau bodoh sekali masa hari saja lupa” kataku “oh iyaiya…hahaha yasudah. Tunggulah pertandingan perdana ku ya Jera…pastikan kalau kau menontonnya kalau tidak…kau tidak akan selamat” katanya mendramatis “apasih kau? Memangnya kau mau membunuhku?” balasku. Ketika aku melihat wajahnya, sesuatu berwarna merah mengalir dari hidungnya “ZHOOUMI!!! HIDUNGMU!!!” teriakku panic. Zhoumi langsung mengeluarkan sapu tangannya dan langsung menyumpal hidungnya “taka pa kok. Hanya mimisan biasa” katanya “kau ini tak apa tak apa….kalau terjadi apa apa bagaimana?!?!” tanyaku panik. Ia hanya tersenyum “aku sudah biasa” katanya. “kau yakin kau tak punya penyakit?” kataku “yakin sekali” katanya. tetapi saat ia mengatakannya ia tak menatapku. Sulit bagiku untuk mengetahui ia berkata jujur atau tidak tanpa melihat matanya “kau tak berbohong kan?” kataku “tidak. Aku sudah jujur padamu” katanya masih tak memandangku. “aku ketoilet dulu, mau membersihkan hidungku” katanya seraya meninggalkanku

**

“I…can’t….live….wi…thout…. you…

My all is in you “

Kuangkat ponselku yang berdering “yoboseyo” kataku “yoboseyo…Jera-ah?” kata suara Zhoumi yang cukup familiar ditelingaku “ne, ada apa?” kataku “em…sepertinya besok sabtu aku tak ikut pertandingan” katanya “kenapa? Ayolah kau sepanjang sekolah tadi memaksaku melihatmu saat pertandingan debutmu, dan sekarang kau yang tak ikut” kataku. ya, sejak hari senin sampai sekarang, hari jumat ia terus menerus memaksaku menonton pertandingan debutnya. Padahal aku sudah mengatakan iya tapi ia terus bertanya untuk memastikan “aku tak akan datang” katanya “kenapa?” tanyaku “aku keluar dari basket. Aku muak dengan semuanya” katanya “mwo? Kau serius?!” kataku “ne” katanya singkat. Oke sekarang aku mulai emosi karena latihannya selama setahun belakangan sia-sia saja “Zhoumi!!!! Buat apa latihanmu selama ini? Kau ingin jadi pemain inti? Kau sudah mendapatkannya tapi kau malah dengan mudah melepaskannya” kataku “mianhaeyo telah merepotkanmu selama ini. Aku memang serius latihan untuk pemain inti namun aku tak bisa menerima nya” katanya “Zhoumi….ka..” kata-kataku terputus karena ia telah memutuskan teleponnya. Oke, ini benar-benar tak masuk akal. Kenapa ia menjadi seperti ini? Kenapa dia? Ada yang aneh dengannya. Aku akan bicara dengannya. Aku akan menanyakan ada apa dengan dirinya. Aku keluar dari kamarku “umma, aku mau keluar sebentar” kataku meminta ijin “yasudah sana…jangan pulang terlau larut” kata umma “ne” kataku singkat lalu aku menaiki mobilku menuju kerumahnya

**

Aku mengetuk pintu rumahnya. Sepi….seperti tak ada orang dirumah. Aku terus mngetuk sambil memanggil-manggil namanya. Namun tak ada jawaban dari dalam rumah. Aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku jaketku dan menelponnya “yoboseyo” kataku ketika telponku diangkat “yoboseyo. Jera-ah?” kata umma-nya Zhoumi “ne, tante…Zhoumi mana?” kataku mencari zhoumi “kau ingin bicara dengannya? Ia sedang beristirahat” katanya “tapi dirumah sepi” kataku “oh kami sedang tidak berada dirumah” kata umma-nya Zhoumi “mwo?jadi dimana?” kataku. “siapa yang menelpon umma?” Tanya zhoumi diseberang. Aku bisa mendengar nya bicara “Jera-ah” kata ummanya pelan. Usahanya sia-sia karena aku mendengarnya “jangan beritahu keadaanku yang sesungguhnya umma…aku belum siap jika ia mengetahuinya sekarang” kata zhoumi “baik nak. Istirahatlah” kata umma-nya. “kami sedang….dirumah neneknya. Sedang berlibur” kata umma-nya padaku. aku curiga. “oh, baiklah. Gomawo. Mianhae telah mengganggu liburan anda” kataku dan langsung menutup telpon. Apa maksut Zhoumi tenang keadaannya? Mengapa ia tak mau aku tau tentangnya? Apa ada penyakit dibalik mimisan yang selama ini dideritanya?

**

Aku membuka mataku karena sinar matahari yang menyilaukan. Sekarang hari sabtu. Karena tak ada kegiatan jadi aku melanjutkan aktivitas tidurku. Aku berencana tidur sampai sore jika perlu. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku “Jera, Zhoumi mencarimu tuh” kata umma “emmm….baiklah” kataku malas-malasan. Aku segar bangkit dan mandi serta memakai baju. Setelah segar aku menemui zhoumi diruang tamu “ada apa?” kataku padanya “temani aku….” Katanya “kemana?” tanyaku “ada yang ingin kutunjukan padamu” jawabnya. Aku pun mengangguk. Lalu ia menarik lenganku. Aku masuk kemobil auudinya dengan cap terbuka. “kita mau kemana?” tanyaku ditengah perjalanan “kau akan tau nanti” katanya sambil tersenyum. Aku memandang wajahnya. Wajahnya terlihat pucat sekali. Atau memang perasaanku saja ya? tapi kurasa ada sesuatu pada dirinya. Jantungku berdetak lebih kencang saat aku duduk disebelahnya. Ia mengemudi dengan sangat cepat. Sampai kami tiba disebuah taman yang sepi. Tak ada orang disini. Tetapi pemandangan taman ini sungguh sangat indah. Ia menarikku kebangku taman itu. Aku duduk dan ia pun duduk disebelahku. “ada apa? Kanapa kau membawaku kemari?” kataku penasaran. “sebenarnya….ehmmm” ucapnya ragu-ragu. Ia melihat kedalam mataku “saranghaeyo…” ujarnya sambil tersenyum menatapku. Aku kaget dibuatnya. Apa benar? Zhoumi menyukaiku? Aku pun menatapnya balik dan tersenyum “nado saranghaeyo…Zhoumu-ah” kataku “mwo? Kau serius?” katanya tak percaya “ne” kataku sambil tersenyum “aaaaah kukira aku bakal ditolak” katanya “padahal aku sudah menyiapkan mentalku jika aku ditolak olehmu” lanjutnya “jadi…karena ini kau tak jadi ikut pertandingan?” kataku menebak “ah tidak juga. Ada factor lain kok” katanya “factor lain? Apa itu?” kataku “aku akan melewati hari ini bersamamu sebelum aku pergi” katanya “mwo?! Kau mau kemana memangnya?” kataku. ia sekarang merubah posisinya. Sekarang kepalanya berada dipangkuanku. Posisinya sedang tiduran menghadap wajahku dan langit “ke tempat yang sangat jauuuuuuh sekali” katanya sambil tersenyum “kemana? Luar negeri?” kataku menebak “jauh lagi…” katanya sambil tertawa. “ini tidak adil…” dengusku kesal “kenapa jagi? Kau marah padaku?” katanya “ini tidak adil….kita baru saja jadian sekarang kau harus keluar negeri” kataku “tenanglah…aku tidak akan jauh darimu kok” katanya “tapi katanya kau mau ketempat yang sangat jauuuuh sekali” kataku masih kesal “tidak akan…kau akan menemukan aku dihatimu” katanya. ia pun langsung duduk tegak dan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Kulihat ia mengeluarkan sebuah kalung berbentuk bintang “ini…..kau akan menemukanku…aku adalah bintangmu. Kau akan selalu melihatku dimanapun kau berada karena aku akan menjadi bintang paling terang sepanjang malammu” katanya sambil memakaikan kalungnya untukku. Aku menangis karena terharu akan perlakuannya “aaah Jera-ah…kenapa kau menagis? Aku salah ya? mianhae” katanya panic “tidak….aku tersanjung padamu. Kau begitu baik padaku” kataku. ia pun mengelap air mataku dengan tangannya yang halur “sudah jangan menangis” katanya. aku pun entah mengapa langsung berhenti menangis. Lalu ia mulai tiduran lagi dipangkuanku. “jika kita jodoh dan kita menikah…kau mau punya anak berapa?” katanya “ehmmmm…. Aku ingin anak kembar saja. Tapi cewek cowok” kataku. aku melihat matanya terpejam namun senyuman terpampang diwajahnya “kalau kau?” tanyaku balik padanya. Ia tak menjawab. Matanya terus terpejam namun lama-lama senyumnya hilang dari wajahnya “Zhoumi?” panggilku, ia tetap tak menjawab “zhoumi? Mi? heeeyyy kau mau punya anak berapa?!?!” kataku. “Zhoumi?! Jangan bercanda…tidak lucu tau” kataku sambil menepuk nepuk pipinya. Pipinya dingin sekali. “ZHOUMI?!?!ZHOUMIIIIIIIII” teriakku. Sekarang aku sudah mulai panic dibuatnya “ZHOUMI!!!TIDAKKKK!!!JANGAN TINGGALKAN AKU”teriakku. Aku pun menangis melihat tubuh zhoumi tanpa nyawa berada dipangkuanku

**

“Zhoumi….” Ucapku lirih saat pemakaman zhoumi. Aku terus menangis sepanjang hari ini. Melihat jasad Zhoumi yang sudah didalam tanah. Aku melepas kalung yang diberikan zhoumi dan menyimpannya disakuku. Aku tak mampu memakainya tanpa adanya kehadiran Zhoumi dihadapanku. “Jera-ah” kata seorang wanita , ternyata ia umma-nya Zhoumi. Aku langsung menyeka air mataku “ini…..zhoumi menitipkannya padaku untuk diberikan padamu” kata wanita itu. Lalu ia pergi.

*Author POV*

Jera membuka kembali surat yang ia masukan kedalam kotak tadi. Ia membacanya lagi untuk yang kesekian kalinya

Jera…

Aku tau saat kau membacanya aku sudah tiada…aku hanya ingin mengatakan ini padamu. Saranghaeyo… aku mencintaimu Lee Jera. Saat kau menemaniku latihan. Saat kau berteriak memarahiku saat permainan basketku jelek. Saat kau mengambil kan minum untukku. Saat kau panic melihat darah mengalir dari hidungku. Mianhae….selama ini aku selalu berbohong padamu. Aku terkena leukemia. Dan aku yakin hidupku tak lama lagi. Makanya aku menulis surat ini untukmu. Aku sudah mengatakan perasaanku padamu. Aku ingin…jadilah orang yang tegar. Anggaplah aku sebagai kenangan manis dihidupmu. Carilah orang yang benar-benar kau cintai… karena seberat apapun hidup aku yakin kau bisa melewati semua rintangannya karena kau gadis yang kuat… Lee Jera, mianhae jika selama ini aku selalu merepotkanmu. aku akan terus menjadi bintangmu. Bintang yang bersinar dimalam hari yang selalu ada untukmu. Dan juga bintang yang selalu ada untukmu. Jagalah kalung itu baik-baik. Aku ingin kita bertemu lagi suatu hari nanti. Meskipun itu tak mungkin. Jagalah dirimu Jera…

Zhoumi

Jera menangis membaca surat itu. Ia lalu menatap langit dan kecewa tak ada satu bintangpun yang menghiasi langit. Baru kali ini ia kehilangan bintangnya. Baru malam ini karena sebelumnya bintangnya selalu hadir dilangit menghiasi pemandangan. “Lee Jera” ucap seorang laki laki hadapannya. Jera pun menatap laki laki itu dengan tak percaya. Matanya hampir keluar dan mulutnya menganga lebar “aku sudah janji tak akan meninggalkan mu” kata lelaki itu sambil tersenyum pada Jera

“zhou…..zho…zhoumi?”

*THE END*

0 komentar:

Posting Komentar

Back to Top